Langsung ke konten utama

Perubahan Sosial di Masa Pandemi Covid-19

Masa Pandemi Covid-19 menuntut masyarakat mengalami perubahan sosial. Perubahan sosial, menurut M.Burhan Bungin adalah proses sosial yang dialami anggota masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan sistem sosial pada semua tingkat kehidupan masyarakat yang secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan sistem sosial yang baru. Perubahan sosial yang terjadi sekarang ini adalah perubahan sosial yang tidak dikehendaki karena adanya wabah penyakit yang menyerang setiap negara, termasuk Indonesia. Perubahan ini mengharuskan masyarakat Indonesia beradaptasi dengan sendirinya.
Awal belum adanya Covid-19, pola kehidupan, budaya dan sistem sosial masyarakat berjalan secara normal. Contoh, masyarakat bila bertemu, berjabat tangan, sekarang hanya menggunakan komunikasi non verbal melalui isyarat atau tanda salam, tersenyum dengan sesama sangat dianjurkan dalam Islam, karena senyum adalah sedekah. Sekarang, walaupun orang tersenyum tetap tidak terlihat karena menggunakan masker yang menutupi wajah. Shalat jumat, shalat tarbih dan shalat Idul Fitri tidal lagi dilakukan di mesjid, akan tetapi dilakukan di rumah, kalaupun ada yang melakukannya berarti daerah tersebut ternasuk daerah zona hijau dari Covid-19 dan dilaksanakan sesuai dengan aturan protokol kesehatan. Selain itu, silaturahmi juga selalu dijaga dan dilakukan secara langsung, sekarang silaturahmi secara langsung sangat dibatasi, boleh silaturahmi akan tetapi secara virtual, atau secara langsung tetapi dengan syarat mematuhi protokol kesehatan. Begitu juga kegiatan sosial lainnya juga dibatasi, menghidari kerumunan yang menghadirkan banyak orang tidak boleh dilakukan. Masyarakat harus tetap di rumah untuk menjaga penularan Covid-19 ini.
Akibat hal tersebut di atas, maka tidak ada lagi kebiasaan atau tradisi yang selalu dilakukan masyarakat. Semua berubah secara cepat. Dengan perubahan ini, maka ada masyarakat yang menerima dan ada juga yang tidak bisa menerimanya. Masyarakat yang menerima perubahan ini akan melakukan perubahan tersebut secara berulang secara berulang dan akan menjadi budaya baru bagi masyarakat. Sedangkan masyarakat yang tidak mau dan sulit menerimanya, maka akan sulit juga beradaptasi dengan keadaan yang terjadi, dan perubahan ini akan dijadikan sebagai beban dan menyusahkan bagi kehidupannya. Biasanya, masyarakat yang sulit menerima perubahan ini adalah masyarakat yang tinggal di pelosok, daerah tertinggal dan terpencil, dan disebut sebagai masyarakat tertutup.
Masyarakat tertutup selalu mempertahankan kebiasaan yang dianggap benar dan tidak mau menerima dan beralih kepada kebiasaan yang baru atau nilai baru atas akibat adanya perubahan yang terjadi di masyarakat. Mereka akan selalu berusaha untuk tetap mempertahankan dan melakukan perlawanan atas perubahan tersebut. Hal itu dilakukan, karena mereka memiliki prasangka negatif atas perubahan tersebut dan menganggap nilai yang mereka pegang selama ini jauh lebih baik daripada perubahan tersebut. Pola pikir inilah yang menjadi beban besar bagi agen perubahan dalam mensosialisasikan dan melakukan edukasi terhadap masyarakat atas perubahan tersebut. Dengan demikian, perlu adanya pendekatan khusus bagi kalangan masyarakat yang tertutup ini dengan melakukan pendekatan kepada individu yang memiliki pengaruh yang signifikan, seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, dan perankat-perangkat yang masuk dalam organisasi formal di lingkungan mereka. Pendekatan yang bisa dilakukan adalah pendekatan persuasif dengan metode komunikasi yang efektif melalui berbagai media atau saluran yang ada dalam agama dan budaya.
Perubahan sosial yang terjadi akibat adanya wabah Covid-19, berdampak bagi masyarakat, baik positif dan negatif. Dampak positifnya adalah semakin banyaknya waktu luang bersama bagi anggota keluarga untuk berinteraksi secara intens, semakin banyaknya aktivitas keseharian yang bisa dilakukan secara bersama, dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Sedangkan dampak negatifnya adalah gejala-gejala sosial yang terjadi di dalam masyarakat semakin tinggi akibat tidak berjalannya secara normal sendi-sendi perekonomian di masyarakat. Misalnya, pengangguran dan kriminalitas semakin tinggi, begitu pula angka kemiskinan juga semakin tinggi. Dengan demikian, sebagai anggota masyarakat, kita tidak boleh apatis terhadap perubahan sosial yang ada di sekitar kita, termasuk perubahan sosial yang diakibatkan adanya wabah Covid-19. Setiap perubahan sosial, baik yang dikehendaki dan tidak dikehendaki akan memiliki pengaruh positif dalam kehidupan kita.
Menutup tulisan ini dengan mengutip kata bijak tentang perubahan dari James Baldwin, mengatakan bahwa "Tidak semua hal yang ada di dunia ini dapat diubah, namun tidak ada yang dapat diubah sampai kita berhasil menghadapinya".
Bone, 2 Juni 2020.
Samsinar S.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunikasi Sebuah Solusi dalam Konflik

            Manusia adalah  makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan lainnya. Sebagai makhluk sosial,  mereka menginginkan agar terjalin hubungan yang baik antarsesama dan menghindari terjadinya konflik yang menyebabkan rusaknya hubungan. Hubungan setiap orang unik. Seseorang yang menjalin hubungan karena alasan-alasan yang unik. Alasan tersebut boleh jadi karena ingin mengurangi kesepian, mengurangi penderitaan, memaksimalkan kesenangan, mendapatkan pengetahuan, atau malah untuk mendapatkan stimulus fisik dan emosional. Stimulus fisik itu seperti kita butuh belaian dan pelukan. Sedangkan stimulus emosional itu seperti tertawa, menangis, butuh kejutan, harapan, dan menginginkan kehangatan (Joseph A.Devito). Alasan-alasan inilah sehingga setiap individu menjalin hubungan dengan yang lain. Separuh dari jalinan hubungan itu mengalami perusakan. Perusakan hubungan adalah menurunnya atau melemahnya ikatan h...

Menanamkan 9 Pilar Karakter dalam Lingkungan Keluarga

Anak adalah amanah yang Allah swt. berikan kepada orangtua, dan orangtua harus mendidik anak dengan baik agar memiliki karakter yang baik. Peran orangtua sangat penting dalam pendidikan karakter. Orangtua adalah pendidik pertama dan utama. Karena dialah, anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya, dan potensi tersebut harus dimunculkan dan diasah oleh orangtua sehingga menjadi sifat dan perilaku. Jika dalam lingkungan keluarga tidak mendukung dalam mengembangkan potensi tersebut, maka akan berpengaruh pada perilaku dan kepribadian anak. Oleh karena itu, lingkungan keluarga harus menciptakan pengalaman anak usia dini baik terhadap kesehatan fisik, mental dan jiwanya sehingga terbawa sampai dewasa. Untuk menciptakan pengalaman anak usia dini, maka orangtua harus membesarkannya dengan penuh kasih sayang, menanamkan moral yang baik, memberikan stimulasi yang cukup, dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri. Dalam hal pengembangan diri anak, orangtua har...

MENCIPTAKAN DAYA MAGNETIS GURU MELALUI HYPNOSTUDYING

Daya magnetis adalah sebuah kekuatan yang muncul dari suatu benda atau orang untuk menarik benda lain atau orang lain sehingga tercipta sesuatu yang luar biasa. Daya magnetis ini seperti sebuah magnet yang menarik besi, memiliki kekuatan tersendiri untuk dapat menarik dan bersatu dengan besi. Manusia juga bisa seperti magnet karena manusia memiliki mental dan fisik, tubuh dan pikiran serta memiliki kekuatan pribadi. Ada banyak orang yang memiliki bentuk fisik yang ideal, tampilan fisik yang sempurna, paras yang elok, bentuk tubuh yang menarik sehingga dengan tampilan fisik tersebut membuat orang lain tertarik dan terpesona. Begitu juga ada banyak orang yang  memiliki daya tarik mental yang kuat yaitu orang yang memiliki kepercayaan dan pengendalian diri yang tinggi, kecerdasan emosi yang tinggi, pantang menyerah, menjadikan pelajaran dari sebuah kesalahan atau kegagalan, menghargai kesuksesaan orang lain, berusaha keras untuk menggapai sesuatu dan tidak terjebak dengan masa lalu ...