Langsung ke konten utama

MATANGKAH KITA DALAM BERAGAMA?

Setiap orang ingin menjadi penganut terbaik dalam beragama. Untuk mencapai hal tersebut, maka seseorang harus memiliki keyakinan keagamaan yang baik ditandai dengan menampilkan sikap dan tingkah laku keagamaan yang mencerminkan ketaatan terhadap agamanya.

Ketaatan dan kesadaran beragama menjadi ciri dalam kematangan beragama.  Orang yang berusia lanjut, pengalaman kehidupan beragama sedikit demi sedikit makin mantap, karena dalam dirinya sudah terorganisir yang namanya kesadaran dalam beragama. Motivasi dan intelegensi pada usia lanjut cukup tinggi sehingga kesadaran beragamanya matang.

Menurut Jalaluddin, kesadaran beragama dilandasi dan diwarnai dengan tingkah laku yang tampak, sikap, pemikiran, tujuan, minat, kemauan dan tanggapan terhadap nilai-nilai abstrak yang ideal. Semua tingkah laku dalam kehidupan, baik berkeluarga, berekonomi, bermasyarakat, berpolitik, dan belajar mengajar selalu diwarnai dengan kesadaran beragama. Agar kita matang dalam beragama, maka ada beberapa ciri yang harus diketahui sebagaimana dikemukakan oleh Zakiah Daradjat dikutip Akmal Hawi dalam buku “Seluk Beluk Ilmu Jiwa Agama” yaitu :

Pertama, pemahaman akidah yang baik. Seseorang yang matang beragama ditandai dengan memiliki pemahaman akidah yang baik. Kepercayaan dan keimanan kepada Allah swt, menjadi pondasi dalam beragama. Jika akidah kita baik, maka memudahkan kita dalam kehidupan beragama. Oleh karenanya, akidah sangat penting sebagai dasar utama dalam beragama.

Kedua, memiliki tujuan hidup berdasarkan akidah. Setiap orang memiliki tujuan hidup yang jelas. Orang yang tidak memiliki tujuan hidup, maka ia akan hidup tak terarah dan terombang-ambing dalam kehidupan. Tujuan hidup berdasarkan akidah adalah tujuan hidup orang yang beriman yaitu beribadah dan mengabdi kepada Allah swt dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ketiga, melaksanakan ajaran agama secara konsisten dan produktif. Kesadaran beragama yang matang terletak pada konsistensi dan produktivitas dalam beragama. Seseorang harus secara konsisten menjalankan ajaran agama dan bertanggung jawab dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta menjalankan agama tidak hanya memberikan manfaat pada dirinya, akan tetapi memberi manfaat untuk orang lain, masyarakat, bangsa dan agama.

Keempat, memiliki pandangan hidup yang komprehensif universal.  Beberapa hal yang harus dimiliki sehingga pandangan hidup kita komprehensif universal yaitu memiliki perasaan cinta kepada Allah swt., memiliki sifat-sifat yang berkenaan dengan segi intelektual orang yang beriman, memiliki motivasi beragama, dan memiliki sikap orang beriman yaitu pandai bersyukur, sabar, selalu berbuat baik kepada sesama,  mampu mengendalikan amarah, dan seterusnya.

Kelima, memiliki diferensialisasi yang baik. Seseorang yang matang beragama ditandai dengan pengalaman dan kehidupan beragama makin hari makin mantap, matang, dan komplek. Pemikirannya semakin kritis dalam memecahkan persoalan keagamaan, dan penghayatan keagamaannya semakin bervariasi dalam berbagai suasana.

Keenam, memiliki pandangan hidup yang integral. Pandangan hidup orang yang matang beragama terintegrasi dalam jiwa seseorang yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan konatif atau psikomotorik, dan keterpaduan dalam pelaksanaan ajaran agama yaitu iman, ihsan dan peribadatan.  

Ketujuh, memiliki semangat pencarian dan pengabdian kepada Allah swt. Orang yang matang beragama selalu merasa bahwa ia menjalankan agama belum sempurna, karenanya ia selalu berusaha mencari kebenaran, menguji keimanan, dan mengevaluasi peribadatan sehingga ia menemukan kenikmatan, penghayatan dan merasakan bahwa Allah swt. selalu berada disisinya.

Demikian pembahasan tentang ciri-ciri kematangan dalam beragama. Semoga kita termasuk orang yang matang dalam beragama. Menutup tulisan ini dengan mengatakan bahwa “kesadaran intelektual dan kesadaran spiritual dibutuhkan dalam mencapai kematangan beragama.”

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunikasi Sebuah Solusi dalam Konflik

            Manusia adalah  makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan lainnya. Sebagai makhluk sosial,  mereka menginginkan agar terjalin hubungan yang baik antarsesama dan menghindari terjadinya konflik yang menyebabkan rusaknya hubungan. Hubungan setiap orang unik. Seseorang yang menjalin hubungan karena alasan-alasan yang unik. Alasan tersebut boleh jadi karena ingin mengurangi kesepian, mengurangi penderitaan, memaksimalkan kesenangan, mendapatkan pengetahuan, atau malah untuk mendapatkan stimulus fisik dan emosional. Stimulus fisik itu seperti kita butuh belaian dan pelukan. Sedangkan stimulus emosional itu seperti tertawa, menangis, butuh kejutan, harapan, dan menginginkan kehangatan (Joseph A.Devito). Alasan-alasan inilah sehingga setiap individu menjalin hubungan dengan yang lain. Separuh dari jalinan hubungan itu mengalami perusakan. Perusakan hubungan adalah menurunnya atau melemahnya ikatan h...

Tunjangan Hari Raya (THR) dan Silaturahmi Virtual di Masa Pandemi Covid-19

Bukan hanya orang dewasa yang bergembira menerima THR, akan tetapi anak-anak pun bergembira menerimanya.  THR bagi mereka sangat dinanti-nantikan. THR yang dinantikan itu berasal dari kerabat atau keluarga dekat, seperti kakek atau nenek, om atau tante, dan saudara sepupu yang sudah bekerja. Sebelum atau setelah hari raya mereka mendapatkannya. Ada yang mendapatkan Rp.50.000,-, Rp. 100.000,-, bahkan sampai Rp. 150.000,-/anak. Pemberian ini tergantung dari status pendidikan atau jenjang pendidikannya, apakah dia mahasiswa, pelajar, atau belum sekolah. Jika dia mahasiswa, maka dia akan mendapatkan Rp.150.000,-, jika dia pelajar, maka akan mendapatkan Rp.100.000,- dan jika belum sekolah dia akan mendapatkan Rp.50.000,-. Selain itu juga, pemberian THR, disesuaikan dengan kemampuan kerabat atau keluarga yang memberikannya.  Pada saat THR bertambah, mereka akan menghitungnya. Lagi dan lagi. Lembar demi lembar mereka kumpulkan mulai dari uang 2.000, 5.000, 10.000, 20.000, 50.000, sam...

Menanamkan 9 Pilar Karakter dalam Lingkungan Keluarga

Anak adalah amanah yang Allah swt. berikan kepada orangtua, dan orangtua harus mendidik anak dengan baik agar memiliki karakter yang baik. Peran orangtua sangat penting dalam pendidikan karakter. Orangtua adalah pendidik pertama dan utama. Karena dialah, anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya, dan potensi tersebut harus dimunculkan dan diasah oleh orangtua sehingga menjadi sifat dan perilaku. Jika dalam lingkungan keluarga tidak mendukung dalam mengembangkan potensi tersebut, maka akan berpengaruh pada perilaku dan kepribadian anak. Oleh karena itu, lingkungan keluarga harus menciptakan pengalaman anak usia dini baik terhadap kesehatan fisik, mental dan jiwanya sehingga terbawa sampai dewasa. Untuk menciptakan pengalaman anak usia dini, maka orangtua harus membesarkannya dengan penuh kasih sayang, menanamkan moral yang baik, memberikan stimulasi yang cukup, dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri. Dalam hal pengembangan diri anak, orangtua har...